Sabtu, 19 Desember 2009

SEA Games

Thailand Juara Umum, Balas di Jakarta


Thailand akhirnya mempertahankan gelar juara umum pesta olahraga Asia Tenggara XXV dan mengungguli pesaing terdekat, Vietnam।

Thailand yang menjadi juara umum di negaranya pada 2007 lalu kembali ke puncak dengan mengumpulkan 86 emas, 83 perak dan 97 perunggu. Mereka unggul tipis atas pwsaing tedekat, Vietnam yang mengumpulkan 83 emas 75 perak dan 57 perunggu.

Di hari terakhir, JUmat (18/12/2009), Thailand menambah dua emas melalui ajang tenis dan petanque. Sementara Vietnam mendapatkan dua emas cabang menembak.

Sementara Indonesia yang merupakan raja pada masa pemerintahan Soeharto, berada di posisi tiga dengan mengumpulkan 43 emas 53 perak dan 57 perunggu. Posisi tiga besar ini sesuai dengan target yang dibuat.

Indonesia tengah berusaha mengembalikan supremasi olah raga Asia Tenggara dengan memperbaiki kualitas atlet yang dikirim. Upaya pembuktian tersebut akan diwujudkan pada SEA Games XXVI yang akan berlangsung di Jakarta pada 2011 mendatang.

Waktu dua tahun tentunya cukup buat induk-induk organisasi olahraga memilih dan menyiapkan atlet-atlet mereka. Sementara para pemegang otoritas tertinggi dunia olahraga harus memberi prioritas cabang-cabang yang mampu mendulang banyak medali seperti angkat besi, atletik, renang, fin swimming, bulu tangkis दल.

Sumber : Kompas, १९ Desember 2009

Pernik

Utut Adianto
Banting Setir

Utut Adianto (44) kini sudah banting setir. Dulu ia berkutat dengan dunia catur. Mulai dari pemain biasa hingga menjadi pemain bergelar grand master dan menjadi pengurus Persatuan Catur Seluruh Indonesia sudah dilakoni Utut. Sekarang ia menjajal tantangan baru, yaitu menjadi politisi di DPR. Sesuai dengan latar belakangnya sebagai pecatur, ia pun bergabung dengan Komisi X DPR yang antara lain mengurusi olahraga.

Dalam jumpa pers persiapan turnamen catur kilat So Good Christmas Cup 2009 di Jakarta, Rabu (16/12), Utut menyampaikan kesibukan Komisi X yang tengah mendorong terbitnya perangkat hukum untuk menjamin hari tua atlet. Lewat perangkat hukum itu, diharapkan tak ada lagi atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa, tetapi terlunta-lunta pada masa tuanya. Namun, Utut tidak menepis fakta bahwa terkadang mantan atlet terlunta-lunta menjalani masa tua akibat ulahnya sendiri yang teledor mengelola keuangan.

Utut lantas menyampaikan kritik terhadap pengurus olahraga di daerah-daerah, berkaitan dengan bonus atlet। Mereka dinilai jor-joran dalam memberikan bonus kepada peraih medali di tingkat nasional। ”Saya kira kita perlu mengatur batasan besarnya bonus. Jangan jor-joran seperti sekarang,” ujarnya.

Sumber : Kompas, १९ Desember 2009

Rabu, 16 Desember 2009

Info SEA Games


Kerja Keras Setahun Serafi Sia-Sia

KEKECEWAAN mendalam dirasakan Serafi Anelis di Laos. Penye­babnya bukan penampilan buruk di SEA Games XXV/2009. Melainkan, latihan kerasnya selama berbulan-bu­lan sia-sia karena dia tidak bisa berlaga di nomor spesialisasinya, lari 100 meter, Minggu lalu (13/12). "Saya jelas kecewa dengan kejadian itu. Saya sudah mempersiapkan diri selama setahun. Tapi, di sini saya tidak turun ke gelanggang," kata Serafi kepada Jawa Pos di Main Stadium National Sports Complex kemarin pagi (15/12).Dia makin kecewa karena torehan peraih emas 100 meter tidak jauh dari catatan waktunya selama latihan. Artinya, dia berpeluang merebut medali, bahkan emas, jika bisa tampil Minggu lalu. Serafi tidak bisa tampil karena namanya tidak masuk dalam daftar peserta. Penyebabnya mungkin dualisme pemusatan latihan yang diselenggarakan Kemenpora dan KONI/KOI beberapa bulan lalu. Saat itu Serafi tergabung dalam PAL yang dibawahi Kemenpora. Selain dia, atlet PAL yang tidak bisa turun adalah Jauhari di nomor lari 5.000 meter dan Agus Prayogo pada nomor 10.000 meter. Pelatih atletik Dicky Gunawan menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa dengan masalah yang menimpa Serafi, Jauhari, dan Agus itu. "Kami sudah memberikan daftar atlet kepada pengurus PB PASI. Nah, pendaftaran ke SEA Games adalah urusan pengurus," jelasnya.Dicky mengatakan pernah mengecek nama-nama atlet yang didaftarkan ke KONI. Saat itu dia mendapati nama tiga atlet tersebut tidak ada. Dicky lantas protes. "Kata pengurus, sudah ada daftar su­sulan yang akan disampaikan ke KONI. Namun, saat saya mengikuti pertemuan teknis SEA Games, nama atlet-atlet tersebut tidak ada," paparnya.Sekjen PB PASI Tigor Tanjung menuturkan ada kesalahan dalam final entry SEA Games.

Sumber : Jawa Pos, 16 Desember 2009

Opini



Menuju Olahraga Berprestasi
Oleh : Utut Adianto
Iri dengan prestasi olahraga yang diukir bangsa-bangsa lain? Tentu dan wajarlah sikap iri itu, karena proporsinya positif. Fakta sosiologis menggambarkan, melalui prestasi olahraga, martabat atau harga diri bangsa dan negaranya terangkat. Itulah yang mendorong banyak negara berlomba untuk meraih prestasi terbaik atau terunggulnya, ditandai perolehan medali terbanyak atau pemenang dari final kompetisi.

Memang, olahraga bukan ranah politik. Tapi, keberadaannya bisa ikut memberikan makna konstruktif-positif bagi setting politik. Nama bangsa dan atau negara terangkat atas kemenangannya. Kini, bagaimana prestasi olahraga kita? Fakta mencatat, hanya cabang-cabang tertentu yang mendunia. Mayoritas jauh di bawah standar. Maka, sebuah obsesi yang harus dibangun adalah bagaimana mengukir prestasi olahraga kita ke level internasional seperti olimpiade, setidaknya, level regional (Asia) seperti Asian Games, bahkan yang lebih rendah lagi setingkat Asia Tenggara seperti SEA Games?

Jawabannya sangat tergantung pada kemauan politik Pemerintah. Jika memang menilai penting atas prestasi puncak atlet kita, konsekuensinya adalah perhatian ekstra terhadap pengembangan dunia olahraga. Refleksi yang mudah dibaca bukan pada instruksi atau harapan kepada para atlet dan jajaran terkaitnya (pelatih dan organisasi keolahragaan), tapi bagaimana memfasilitasi kebutuhan riil mereka. Hal ini akan tercermin jelas pada alokasi anggarannya. Jika memadahi, maka di sana akan terlihat optimisme. Sebab, amunisi yang memadahi berpotensi besar untuk membangkitkan spirit atlet, para pelatih dan manajemen pengelolaannya. Sebaliknya, jika yang penting ada anggaran, maka konsekuensinya sebuah risiko: pretasinya pun apa adanya, sulit untuk mencapai terbaik. Jika ada, terbatas jumlahnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya sikap Pemerintah terhadap komitmen pengembangan olahraga di tanah air ini? Yang perlu kita garis-bawahi bukan semata-mata bangsa ini sehat, tapi mengukir prestasi di bidang olahraga. Jika kita buka pagu anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga dari tahun ke tahun, terkategori kecil atau terbatas. Sebagai ilustrasi tahun lalu (2009), pagu anggarannya tak lebih dari Rp 500 milyar. Dengan angka seterbatas ini, apa yang diharapkan untuk mencapai prestasi puncak. Sangat tidak rasional. Pagu anggaran itu relatif menggambarkan proporsi Kementerian Pemuda dan Olahraga sesungguhnya tak lebih dari sekedar asesoris. Dan – boleh jadi – hanyalah politik balas budi. Dengan proporsi seperti ini, maka kita dapat menerawang, pantaslah prestasi olahraga kita cukup terbatas.

Sedemikian terbataskah komitmen Pemerintah dalam mengembangkan olahraga di tanah air ini? Tentu, tak mau dituding seperti itu, meski data faktual tak bisa dipungkiri. Untuk menghindari tudingan yang tidak sedap itu, tampaknya Pemerintah – melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga – memperjuangkan pagu anggaran 2010 yang jauh lebih tinggi: mencapai Rp 1.553.859.460.000,-. Meski demikian, pagu anggaran tiga kali lebih besar dari tahun lalu ini tetap jauh lebih kecil dibanding sejumlah departemen teknis lainnya. Sebagai ilustrasi, Departemen Pendidikan Nasional mencapai Rp 51,796.49 trilyun (15,81% dari total anggaran nasional). Departemen Pertahanan Rp 40,688.68 trilyun (12,42%), Departemen Pekerjaan Umum Rp 35,227.12 trilyun (10,46%). Perbandingan pagu anggaran tersebut tetap mengundang tanya bagi kepentingan pengembangan olahraga dalam konteks prestasi terunggul.

Meski demikian, kita dapat menghargai tekad perbaikan anggaran itu, yang tentu punya misi tertentu, antara lain, berusaha menaikkan prestasi atlet dalam rangka memasuki kompetisi terbuka. Tapi, untuk mencapai prestasi puncak – secara matematis – masih diperlukan biaya jauh lebih besar, apalagi jika diharapkan semua cabang olahraga. Dengan fakta keterbatasan pagu anggaran itu, maka diperlukan siasat sekaligus komitmen Pemerintah bagaimana langkahnya mencapai konsekuensi biaya obyektif yang diperlukan untuk membangun prestasi itu, katakanlah melalui SEA Games.

Harus kita catat berulang kali, untuk mencapai prestasi puncak tidak bisa hanya mengandalkan kaulitas prima para atlet dan jajarannya (pelatih dan organisasi keolahragaan), tapi justru lebih didominasi faktor nonteknis. Sektor nonteknis ini (persoalan pendanaan) – sejauh ini – tidak terencana maksimal. Sesekali waktu, ada pihak sponsor yang mendanai event olahraga. Kita harus mencatat, kemauan sponsor bukan hanya tidak konsisten, tapi mereka juga bersikap pragmatis: adakah gain yang diraih dari partisipasinya dalam pesta olahraga itu?

Sebagai pedagang, mereka mau berkonstribusi jika ada feed back (keuntungan material) bagi kepentingan dirinya. Sementara itu kita tahu, sejalan dengan fakta pagelaran olahraga – secara umum – tidak mampu menyedot animo masyarakat dalam jumlah besar, maka para pihak sponsor pun enggan untuk ikut mendanai. Secara komparatif, para sponsor lebih tergerak untuk mensponsori pagelaran musik karena memang penontonnya membludak. Dan itu beda dengan pesta olahraga yang jauh lebih kecil jumlah penontonnya, sehingga para sponsor memang terlihat enggan pada event-event olahraga. Di sinilah, proses peloyoan menuju atlet berprestasi. Bukan hanya persoalan tingkat pelaksanaan event, tapi ketiadaan “amunisi” untuk membina atlet dan jajarannya yang terkait.

Karenanya, konsep pembangunan olahraga haruslah diubah: menciptakan olahraga sebagai industri. Diawali kerjasama dengan kaum industri, kemudian atletnya harus mampu memperlihatkan prestasinya secara fantastik. Reputasinya dijadikan modal yang siap “diperdagangkan” untuk kepentingan mitranya (industri) yang sejauh ini memfasilitasi prestasinya. Inilah format yang sudah berjalan efektif di sejumlah negara Barat. Sinergisitas industriawan – atlet dan manajemennya mampu mengantarkan sejumlah atlet berprestasi, yang bersifat grup ataupun individual.

Bagaimana dengan Indonesia? Tampaknya masih jauh, bagai panggang dari api. Kaum idustriawan masih memandang sebalah mata terhadap keberadaan atlet kita. Tak bisa disalahkan seratus persen. Kalangan pemodal sudah terlanjur berprinsip: memberikan dananya, berarti harus ada feed backnya. Sementara, atlet pun bisa berdalih, bagaimana mungkin bisa mencapai prestasi puncak sementara tak ada “amunisi” yang memadahi. Masing-masing tak bisa disalahkan. Di sinilah urgensi komitmen Pemerintah dalam konteks anggaran yang memadahi.

Sejalan dengan realisasi pagu anggaran keolahragaan yang relatif masih terbatas, maka komitmennya perlu diterjemahkan lebih jauh: menggunakan kekuasaan. Dalam hal ini ada dua model yang bisa dibangun. Pertama, mengefektifkan himbauan agar perusahaan – terutama BUMN – mengalokasikan sebagian dana corporate social responsibility (CSR) untuk membantu pengembangan dunia olahraga. Kita tahu, total dana CSR dari BUMN-BUMN sangat besar. Akan jauh lebih besar lagi jika himbauan itu juga diefektifkan ke perusahaan-perusahaan swasta kategori besar. Total akumulasinya sangat berpotensi untuk membangun pengembangan olahraga.

Yang menjadi persoalan, perusahaan-perusahaan itu – terutama BUMN – tampak enggan untuk mengalokasikannya. Faktornya, tidak mudahnya meminta tanda bukti pengeluaran dari para penerima bantuan. Padahal, era sekarang sungguh riskan jika pengeluaran tidak disertai bukti valid. Bisa dikategorikan penyalahgunaan wewenang (korupsi). Karenanya, yang harus dirancang adalah bagaimana dua pihak pencari sponsor dapat memahami arti krusial tanda bukti pengeluaran. Sementara itu, untuk perusahaan swasta, Pemerintah harus bisa lebih memaksa, bukan sekedar himbauan dan bukan pula sekedar menginformasikan peraturan CSR. Kalau perlu, ada kompensasi (insentif) bagi partisipan.

Yang kedua, Pemerintah – secara proaktif – memanggil sejumlah pengusaha papan atas. Mereka dikumpulkan di Istana, misalnya, dan masing-masing dibagi tugas untuk membina cabang-cabang olahraga yang ada. Dengan instruksi tegas Presiden, kiranya mereka tak bisa menolak. Hal ini – sebagai komparasi – pernah dilakukan mendiang Presiden Soeharto yang mengumpulkan para pengusaha kelas kakap. Langkah ini dilakukan sebagai evaluasi atas kekalahan Indonesia pada SEA Games 1995 yang gagal menduduki urutan pertama, padahal sebelumnya selalu meraih posisi teratas: empat kali SEA Games berturut-turut (1977, 1979, 1981 dan 1983). Bahkan, meski pernah jeda sekali dalam SEA Games 1985 di Thailand, tapi dua tahun berikutnya Indonesia merebut kembali sampai empat kali berturut-turut juga: 1987, 1989, 1991, dan 1993.

Itulah makna krusial penggunaan kekuasaan. Dengan langkah mengumpulkan para pengusaha papan atas itu, Indonesia berhasil memperbaiki posisi urut pada SEA Games XIX di Jakarta,1997, tidak hanya juara umum, tapi perolehan jumlah medalinya yang jauh lebih tinggi dibanding urutan kedua: Indonesia meraih 194 emas, 101 perak dan 115 perunggu. Sementara, Thailand sebagai urutan kedua hanya meraih 83 emas, 97 perak dan 78 perunggu.

Sejarah prestasi olahraga Indonesia itu kini tinggal catatan manis. Sejak lahir Orde Reformasi, prestasinya – terutama di SEA Games – terus menurun. Hal ini karena tiadanya perhatian khusus Pemerintah bahkan tiadanya penggunaan kekuasaan berpengaruh destruktif terhadap minimnya capaian prestasi atlet Indonesia. Hal ini baca pada lima SEA Games terakhir (1999, 2001, 2003, 2005 dan 2007). Karena itu, sudah saatnya mendayagunakan kembali kekuasaan. Kiranya tidak menjadi persoalan sepanjang arahnya konstruktif: untuk kepentingan martabat bangsa. Langkah ini diperlukan untuk menopang APBN yang relatif masih terbatas, meski tahun 2010 ini naik.

Satu makna yang perlu dicatat, penggunaan kekuasaan untuk melibatkan para pengusaha dalam pengembangan olahraga adalah ketersediaan dana untuk membina atlet. Kita tahu, pembinaan tidak boleh hanya menjelang pagelaran, tapi jauh sebelumnya dan bersifat kesinambungan atau terus-menerus. Inilah kata kunci yang mengantarkan hasil nyata. Lebih dari itu, realitas keberhasilannya bisa menularkan motivasi, tidak hanya para atlet yang siap berlaga, tapi juga para penerusnya. Bahkan, bisa juga menjadi daya dobrak untuk menyemaikan benih-benih di tengah masyarakat, sehingga atlet-atlet berpotensi bermunculan. Secara sadar atau tidak, keterlibatan para pengusaha besar dalam dunia olahraga bisa menciptakan proses regenerasi olahragawan yang bisa diharapkan.

Apakah alam reformasi ini masih cocok mendayagunakan kekuasaan? Memang ada nuansa yang agak beda dibanding alam Orde Baru. Namun demikian, kalangan konglomerat – sesuai dengan karakter dan prinsip dagangnya – akan merespons positif ketika sang presiden campur tangan langsung. Rakyat pun akan menyambut positif sejalan dengan campur tangannya memang untuk kepentingan rakyat, apalagi berdimensi menaikkan harga diri bangsa.

Akhirnya, apakah Presiden tetap berpangku tangan melihat prestasi olahraga kita yang kian meredup, setidaknya dalam lima kali SEA Games terakhir? Memang, Presiden sudah wanti-wanti kepada para atlet yang siap berlaga di SEA Games XXV di Laos itu untuk meningkatkan prestasinya, minimal menjadi tiga besar, bahkan mengukir prestasi seperti masa lampau (juara umum). Harapan itu wajar. Tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana memfasilitasi para atlet hingga meraih prestasi yang diharapkan.

Harus disadari, jika tak ada fasilitas konkret, maka grafik prestasi olahraga kita akan semakin menurun. Dan itulah tren yang sudah terlihat (terjadi) sejak Orde Baru runtuh. Haruskah menyalahkan para atlet? Tidaklah fair. Mereka manusia biasa, yang memerlukan “amunisi” untuk kehidupan dirinya, bahkan keluarganya, juga bukan untuk jangka pendek waktunya. Kenyamanan dirinya dan atau keluarganya untuk saat ini dan masa depan berpengaruh penting terhadap motivasi para atlet, semasa dalam arena pelatihan ataupun ketika berkompetisi dan masa selanjutnya. Inilah catatan yang kiranya bisa diharapkan untuk mengukir prestasi olahraga kita di hadapan bangsa-bangsa lain. Semoga, SEA Games XXV di Laos nanti menjadi tonggak kesadaran baru untuk membangkitkan olahraga di Persada Nusantara ini. Andai hasil SEA Games XXV nanti tidak sesuai harapan karena banyaknya persoalan yang dihadapi selama ini, inilah pijakan sebagai bahan evaluasi untuk kemudian menatap lebih jauh guna mengantarkan prestasi olahragawan kita ke tingkat puncak. Sebuah kesadaran konstruktif yang berdimensi jauh.

Jakarta, 24 November 2009
Penulis: Grandmaster Internasional Catur, peraih medali emas Olimpiade Istanbul, 2000. Kini anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan

Info SEA Games Laos

Baru Dua Atlet Cetak Rekor

HINGGA hari keenam pelaksanaan pesta olahraga antarbangsa se-Asia Tenggara, tercatat 43 pemecahan rekor SEA Games (SEAG). Dari sejumlah rekor tersebut, ternyata Indonesia baru menempatkan dua atlet yang memberikan sumbangsih untuk tercatat dalam sejarah SEAG sebagai pemecah rekor.
Sprinter Suryo Agung Wibowo mencetak rekor baru SEAG lewat nomor lari 100 meter putra, la mencatat waktu 10,17 detik sekaligus menajamkan rekor sebelumnya atas namanya sendiri 10,25 detik yang dibuat di SEAG XXIV Nakhon Rat-chasima. Thailand, 2007.
Sebelumnya cabang angkat besi lewat Eko Yuli Irawan me rmahkan rekor milik Gustar Juniarto dalam kelas 62 kg yang ditorehkan di SEAG XXIII Hanoi. Tiga rekor milik Gustar itu dari total angkatan, clean and jerk dan snatch. Indonesia menurunkan 515 atlet yang berlaga di 22 dari 25 cabang olahraga yang dipertandingkan.
Hingga pukul 17.00 WIB berdasarkan laman daring resmi panitia SEAG www.laoseagames2OO9.com, Singapura masih menjadi negara yang paling banyak menorehkan 12 rekor dari menembak (2 rekor) dan renang (10). Thailand menempati posisi berikutnya dengan 10 rekor dari atletik (3), menembak (4), renang (3).Kemudian Malaysia tujuh rekor dari menembak (1) dan renang (6). Vietnam empat rekor menembak. Filipina empat rekor dari atletik (1) dan renang (3). Indonesia bersama Laos dan Myanmar sama-sama mencetak dua rekor.
Cabang menembak dan renang memang menjadi primadona pengumpulan medali dalam kegiatan multiajang seperti SEAG, Asian Games, dan Olimpiade. Dengan fakta yang muncul seperti itu, tidak terlalu salah jika kemudian Menpora Andi Mallarangeng dalam berbagai kesempatan menyebutkan bakal lebih fokus dalam pembinaan olahraga individual.
Hasil yang diraih dari nomor perseorangan tersebut jaqh lebih memungkinkan. "Ke depan kita bakal lebih fokus dalam pembinaan olahraga individual. Karena potensi mencatat prestasi yang lebih bagus," ujar Andi, beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, angkat besi menjadi cabang dengan sumbangan medali terbanyak buat Indonesia, yaitu 5 emas, 1 perak, dan 1 perunggu. Para lifter tersebut
adalah Jadi Setiadi di kelas 56 kg, Eko Yuli Irawan (62 kg), Triyatno (69 kg) di bagian putra. Di putri Lisa Rumbewas (58 kg) dan Okta Dwi Pramita (63, kg). Tambahan perak diberikan Sinta Darmariani di kelas 69 kg dan perunggu dipetik Noviyanti (68 kg).
Kesuksesan itu membuat PB PABBSI berhasil melampaui target yang dibebankan. Dari empat emas yang dibidik, mereka sukses meraup lima emas. Itulah yang sempat dikatakan Ketua Umum PB PABBSI Adang Daradjarun kepada Media lndo-nesia sebelum keberangkatan ke Laos. "Kami akan buat kejutan di sana. Lihat saja nanti," tegasnya.
DPR bereaksi
Sementara itu, Komisi X DPR-RI akan memanggil Menpora, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), dan PB PAS1 berkaitan dengan tidak bisa tampilnya tiga atlet atletik, yakni Agus Prayogo, Djauhari Djohar, dan Sherafl, di nomor spesialis lari jarak menengah.
"Kita akan panggil Menpora, KOI, dan PB PASI untuk meminta penjelasan mengapa mereka tidak bisa tampil di nomor spesialisnya. Padahal, sudah jelas-jelas berpeluang merebut medali emas," ujar anggota Fraksi PDIP Utut Adianto di sela-sela kunjungan ke arena pencak silat dan wushu di Gedung Lao ITTEC, Vientiane, kemarin.
Mereka tidak diperkenankan tampil di nomor spesialisnya itu akibat nama mereka tidak terdaftar sebagai peserta. Pihak KOI melalui Wakil Chef de Mission Djoko Pramono menuding itu merupakan kesalahan PB PASI. "Bukan hanya PB PASI yang bertanggung jawab. KOI juga tidak boleh cuci tangan sebab KOI merupakan pintu terakhir untuk mengecek kebenaran dari usulan setiap induk-induk organisasi," kecam JEW Gosal, mantan anggota Bidang Pembinaan KONI Pusat.
Sumber : Media Indonesia, 15 Desember 2009

Info SEA Games Laos

Indonesia Sulit Capai Tiga Besar

Anggota Komisi X DPR RI mengunjungi posko Indonesia di National University of Laos (NUOL), Senin (14/12) malam. Mereka diwakili Utut Adianto, Akbar Zulfakar, Zulfadhli, dan Teuku Zaini Amin, mempertanyakan kiprah tim Indonesia selama perhelatan SEA Games 2009 Laos.Dalam perbincangannya dengan wakil Chief de Mission Indonesia, Djoko Pramono, keempatnya mempertanyakan segala kendala serta kesiapan tim Indonesia sebagai tuan rumah SEA Games 2011.
"Kalau untuk mencapai tiga besar, rasanya tidak mungkin. Kami harus realistis menjabarkan masalah ini. Untuk saat ini, rasanya tidak mungkin," jelas Djoko kepada anggota DPR. Utut Adianto sebagai wakil rakyat juga mempertanyakan masalah-masalah yang dialami tim Indonesia selama SEA Games digelar. "Hari ini (kemarin), kami mengunjungi beberapa cabang olah raga, bahkan harus mencicipi makanan atlet. Cukup berprotein bagi mereka," jelas Utut.

Senin, 14 Desember 2009

Intropeksi

Belajarlah Pembinaan Olahraga Seperti China


Dulu pembinaan olah raga Cina diidentikkan sebagai steril dari iming-iming finansial yang menggiurkan. Konsep amatirisme dengan hegemoni kuat negara terhadap kehidupan atlet sangat kental dalam model pembinaan demikian. Toh, Cina membuktikan diri menjadi salah satu kekuatan di dunia olah raga.

Perlahan namun pasti, negeri tirai bambu itu mulai mengubah haluan politik dengan menciptakan upaya percepatan ekonomi dengan juga mengadopsi prinsip-prinsip kapitalisme, meski masih dalam terjemahan gaya dan tata cara khas Cina. Hal itu kini berimbas dalam pola pembinaan olah raga Cina. Jangan bandingkan kehidupan olah ragawan Cina masa kini dengan masa lalu. Selamat tinggal "kemiskinan" dan "sekadar bakti" buat negara. Olah ragawan Cina kini juga lekat dengan iming-iming material, bahkan berkehidupan layaknya mitra mereka di negara-negara kapitalis.

Contoh terkini adalah peraih medali emas pertama bagi kontingan tuan rumah di Olimpiade Beijing 2008, yakni lifter putri Chen Xiexia. Prestasi di berbagai ajang sudah menjadi langganan bagi atlet berusia 25 tahun itu. Harian setempat, Oriental Sports Daily merilis laporan bahwa Chen Xiexia bakal menerima 10 juta yuan (sekitar Rp 13,27 miliar) dari berbagai pihak di Cina. Sebuah kejadian yang di masa lalu, merupakan impian belaka bagi banyak atlet Cina berprestasi.

Cina menghadiahkan setiap peraih medali emas 250.000 yuan (sekitar Rp 330 juta) dengan kenaikan sebesar 50.000 yuan (sekitar Rp 66 juta) dari yang diperoleh di Olimpiade Athena sebagai insentif ekstra mencapai kemenangan. "Itu hanyalah permulaan karena masih ada hadiah dari provinsi asal atlet dan sponsor," demikian tulisan harian itu selanjutnya.

Sebagai tambahan, Yayasan Fok Ying Tung yang didirikan oleh seorang pengusaha dan dermawan Hong Kong memberikan kepada setiap peraih medali emas Cina satu kilogram emas dan 80.000 dolar AS (sekarang sekitar Rp 720 juta) sejak 1984. Sebagai tambahan, setiap penghasilan yang diterima atlet Cina tak akan dikenai pajak.

Chen Xiexia tetap rendah hati dan mengatakan emas yang direbutnya sama saja dengan emas-emas lainnya. Meskipun raihan emas itu disorot banyak media, karena menjadi raihan pertama bagi tuan rumah.

Olimpiade 2008 Beijing memang memberi banyak pelajaran yang bisa diambil. Sebagai tuan rumah, Beijing 2008 memberikan banyak contoh untuk ditiru. Raksasa olah raga Asia, bahkan dunia itu layak dijadikan model pembangunan olah raga. Mereka sangat serius memerhatikan pembangunan olah raga. Cina menunjukkan bahwa olah raga adalah bidang yang tidak bisa dikelola semaunya. Olah raga juga tak bisa dikelola secara instan dan dilakukan demi kepentingan politik semata.